Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Sekilas tentang Ibnu 'Asyur

Ibnu ‘Asyur sejarah dan pemikirannya

A.      Silsilah Ibnu ‘Asyur

Kehidupan Ulama merupakan kehidupan yang dikelilingi oleh orang-orang yang yang “tercerahkan” oleh Islam. Lingkungan mereka adalah lingkungan yang memadukan kesalehan sosial dan intelektual. Tidak ada seorang ulamapun yang hidup tanpa lingkungan yang memanifestasikan ilmu dalam tataran praktis, sehingga ulama adalah orang yang mumpuni dalam keilmuan dan memiliki kesadaran sosial. Begitupun ulama yang satu ini.
Nama lengkapnya adalah Muhammad at-Thahir Ibnu Muhammad bin Muhammad at-Thahir bin Muhammad bin Syekh Muhammad as-Syadzili bin al-‘Alim Abdul Qadir bin al-‘Alim az-Zahid al-Wali as-Shalih Syekh Mahmad bin ‘Asyur . Muhammad at-Tahir ibnu ‘Asyur Dilahirkan di dekat ibu kota tunisia pada tahun 1296 H. / 1879 M. Beliau adalah keturunan keluarga ulama besar yang dirunut akan sampai hingga ulama maliki andalusi.
B.        Perjalanan keilmuan Ibnu ‘Asyur
Ibnu ‘Asyur tumbuh dalam keluarga yang mencintai ilmu yang mengakar pemahaman agamanya. Pertama Ibnu ‘Asyur belajar Al-quran dan menghafalnya kepada Syekh Muhammad al-Khiyari di mesjid Sayyidi Abi Hadid yang berdekatan dengan rumah nya. Dan pada usia 14 tahun Ibnu ‘Asyur masuk universitas Zaitun dimana di situ beliau belajar dengan tekun hingga terkenal dengan kecerdasannya.  Dan di Universitas Zaitunah Ibnu ‘Asyur belajar arti tentang perlawanan sikap taqlid dan mengajak kepada pembaharuan pemikiran. Dimana slogan mereka yang masyhur ialah ‘ agama Islam adalah Agama pemikiran, peradaban, pengetahuan dan modernitas’.

Read More..
Diantara ulama besar yang pernah mendidik Ibnu ‘Asyur adalah  Syekh Ahmad bin Badr al-Kafy, Ibnu ‘Asyur belajat darinya Qaedah-qaedah bahasa arab, Syekh Ahmad Jamaluddin, Ibnu ‘Asyur membaca kepadanya (al-Qatr) dalam disiplin nahwu dan (ad-diry) fiqh Maliiki, Syekh Salim Bawahajib beliau adalah Faqih, Ahli bahasa, sastra dan mumpuni dalam ilmu matematika, sejarah dan geografi. 
Dalam pertemuannya dengan Muhammad Abduh, Tahir ibnu ‘Asyur menyampaikan gagasan-gagasan pembaharuan dalam ranah pendidikan dan sosial dimana gagasan Ibnu ‘Asyur tertuang dalam kitabnya ‘Ushul nidham al-Ijtima’i fil Islam’. Begitupun relasi pembaharuan Ibnu ‘Asyur dengan Rasyid Ridha dan pemikiran kreatifnyapun tertiang dalam majalah al-Manar.
Pada Tahun 1907 M/ 1325 H. Ketika Ibnu ‘Asyur menjabat posisi sentral di Universitas Zaitun, beliau gencar2 melontarkan idea-idea pembaharuan dalam bidang pendidikan, memaparkannya kepada pemerintah hingga Ibnu ‘Asyur bisa melaksanakan program-programnya .pembaharuan dalam bidang pendidikan di Universitas Al-Zaitun dirasakan sendiri oleh Muhammad Abduh bahkan Abduh sendiri merasa takjub akan perkembangan pembaharuan di Zaitun sendiri. Dalam salah satu pernyataannya “ orang-orang Muslim ( Ulama-ulama ) al- Zaitun telah mendahului kami dalam hal pembaharuan kurikulum pendidikannya hingga yang terdapat di Universitas al-Zaitun lebih baik ketimbang apa yang dihasilkan oleh Ulama-ulama Al-Azhar ”.
C.      Karya-karya Ibnu ‘Asyur
Ibnu ‘Asyur merupakan ulama kontemporer yang sangat produktif, hampir disetiap bidang kajian ilmu keislaman beliau memiliki karangan. Namun diantara kitabnya dia memiliki sejumlah karya yang terbilang merupakan karya monumental abad 14 ini. Diantaranya adalah Maqashid as-Sayri’ah al-Islamiyah ( Ushul Fiqh ) dan at-Tahrir wa at-Tanwir ( Tafsir ).
Ada yang menarik dari sekian banyak karangan Ibnu ‘Asyur, dimana dia tidak terlalu memberikan perhatian dalam penyusunan kitab melainkan, beliau sangat produktif menulis diberbagai majalah seperti Az-Zaituniyah ( yang diterbitkan oleh Universitas az-Zaitun ) dari majalah ini muncullah kitab tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir ( tafsir pembebasan dan pencerahan ), dan majalah al-Hidayah al-Islamiyah, dari majalah ini terbitlah karya beliau yang berjudul Ushul Nidham al-Ijitima’i fil Islam ( dasar sistem sosial dalam Islam ), dan dari majalah al-Majma’ al-Ilmiy al-‘Araby bi dimasq muncul kitab syarh al-Muqaddimah al-Adabiyah ( penjelasan pengantar kajian sastra ).
D.     Pemikiran dan kontribusi Ibnu ‘Asyur dalam Ushul fiqh
Bagi Ibnu ‘Asyur sebagaimana ditulisnya dalam kitab ‘ushul nidham al-Ijtima’i fil Islam’ perubahan system dalam seluruh sisi kehidupan dunia telah menuntut kita untuk memperbaharui pemikiran dan nilai-nilai rasionlitas dengan mengajak untuk memperbaiki system pendidikan.  
Menurut Ibnu ‘Asyur,bahwa ayat yang berbicara tentang ibadah dan etika islami lebih banyak ketimbang ayat mu’amalah ini lebih dilatar belakangi dengan masalah prinsipil yang ada di era dakwah Nabi di mekkah.    
Ini menunjukkan bahwa perhatian ushul-nya Ibnu ‘asyur mengacu kepada maqashid. Dan hal yang menjadi perhatian besar ulama adalah mememukan kerusakan dari maqashid yang pasti agar mereka menjadikan hal tersebut dasar dari fiqh.  Dan sebaghian ulama telah mencoba untuk meneliti dan mengkontruksi fiqh dengan dasar-dasar yang konkrit atau pasti. Dan menurut Ibnu ‘Asyur bahwa orang yang pertama mencoba untuk melakukan konstruk fiqh melalui maqashidnya dengan dalil-dalil yang konrkrit adalah Imam Al Haramain, ini dibuktikan dengan perkataannya dalam kitab al-Burhan fi Ushul fiqh  “ sesungguhnya ushul fiqh adalah hal-hal konkrit dalam pengertian ulama ushul . ”
Dan tidak diragukan bahwa yang dimaksudnya adalh kepastian-kepastian dari pendengaran. Karna tidak ada jalan untuk memperoleh kepastian rasional kecuali dalam ushul al-din.
Ibnu ‘Asyur juga menyatakan bahwa jika terjadi pertentangan antara dua maslahat, maka didahulukan yang lebih besar maslahatnya. Dalam pembagian maslahat ditinjau dari sisi pengaruhnya pada umat ada tiga yaitu dharuri,hajjiah, dan tahsiniyah . pembagian maslahat dilihat dari kaitannya dengan sosial atau individu dibagi dua ada maslahat universal dan maslahat partikular. 

Dalam sebuah pengantarnya Dr. Toha Jabir al-Alwani mengomentari kitab nadzriayatu maqashidl ‘inda Imam Muhammad Thahir Ibnu ‘Asyur- lebih tepatnya tesis Ism’ail al-hasani, menyatakan bahwa Ibnu ‘Asyur berangkat dari pemahaman Muwafaqatnya as-Syatibi (Maliki) dan al-Qarafi (Maliki) serta maqashidnya Najmuddin Sulaiman al-thufi (Hanbali). Dan uniknya Ibnu ‘Asyur banyak memperoleh pemahaman maqashidnya dari pemahaman as-Syatibi.
0 komentar

Tafsir Surat Abassa ( Tafsir Mishbah)


Surah 'Abasa
 terdiri atas 42 ayat. Dinamai 'Abasa, yang berarti 'Ia bermuka masam', diambil dari ayat pertama.

Surah ini disepakati sebagai surah Makkiyyah. Namanya yang paling populer adalah surah 'Abasa (cemberut). Ada juga yang menamainya surah ash-Shakhkhah (yang memekakkan telinga), surah as-Safarah (para penulis kalam Ilahi), dan surah al-A'ma (sang tunanetra) yang kesemuanya diambil dari kata-kata yang terdapat dalam surah ini. Pakar tafsir, Ibn al-'Arabi, dalam bukunya Ahkam al-Qur'an menamainya surah Ibn Ummi Maktum karena awal surah ini turun berkenaan dengan kasus sahabat Nabi yang buta itu sebagaimana akan Anda baca.

Tema utamanya, menurut Ibn 'Asyur, adalah pengajaran kepada Nabi Muhammad saw membandingkan peringkat-peringkat kepentingan agar tidak mendahulukan sesuatu yang pada mulanya penting atas yang lain, yang sama dengannya atau lebih penting darinya, sambil mengisyaratkan perbedaan keadaan kaum musyrikin yang berpaling dari petunjuk Islam dengan kaum muslimin yang memberi perhatian besar terhadap ajaran Islam.

Menurut al-Biqa'i —tokoh yang selalu berusaha menunjukkan keserasian hubungan ayat-ayat al-Qur'an— tema dan tujuan utama surah ini adalah penjelasan tentang kandungan ayat 45 surah yang lalu yaitu: "Engkau hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya, yakni kepada hari kiamat."

Penjelasan itu adalah bahwa tujuan utamanya adalah memberi peringatan bagi siapa yang memiliki potensi (dan bermaksud) untuk takut kepada Allah melalui peringatan tentang hari kiamat yang telah terbukti keniscayaannya dengan kuasa-Nya menciptakan manusia pertama kali serta penciptaan awal dan pengulangannya menyangkut makanan. Namanya 'Abasa (bermuka masam) menunjukkan tujuan tersebut dengan memerhatikan ayat-ayatnya serta tujuannya. Demikian juga dengan namanya yang lain yaitu ash- Shakhkhah dan al-Bakhkhah yang menggambarkan tersemburnya api dan keburukan.

Thabathaba'i berpendapat bahwa surah ini merupakan kecaman kepada siapa yang memberi perhatian kepada orang-orang kaya yang bermewah-mewah dengan mengabaikan orang-orang lemah dan miskin dari kaum beriman. Thabathaba'i mengemukakan riwayat yang berbeda dengan riwayat populer di kalangan kelompok Ahl as-Sunnah yang mengatakan bahwa ayat ini turun sebagai teguran kepada Nabi Muhammad saw yang bermuka masam terhadap 'Abdullah Ibn Ummi Maktum yang tunanetra.

Ulama beraliran Syi'ah itu mengemukakan riwayat dari sumber Syi'ah yang menyatakan bahwa yang bermuka masam bukanlah Nabi Muhammad saw, tetapi salah seorang selain beliau. Surah ini dinilai sebagai surah yang ke-24 dari segi perurutan turunnya kepada Nabi saw. Ia turun sesudah surah an-Najm dan sebelum surah al-Qadr. Jumlah ayat-ayatnya menurut cara perhitungan ulama Mekkah, Madinah, Kufah adalah 42 ayat, sedang menurut cara perhitungan ulama Bashrah 41 ayat.

Surah ini merupakan awal dari surah-surah al-Mufashshal yang pertengahan jumlah ayat-ayatnya. Sedang, surah al-Hujurat sampai dengan an-Nazi'at adalah awal surah al-Mufashshal yang jumlah ayat-ayatnya dinilai banyak.

Rangkaian ayat-ayat ini turun berkaitan dengan kedatangan seorang tunanetra kepada Nabi Muhammad saw yang meminta agar beliau mengajarnya. Nabi saw ketika kedatangannya itu sedang menjelaskan ajaran Islam kepada tokoh-tokoh masyarakat Mekkah dengan harapan ajakan beliau dapat menyentuh hati dan pikiran mereka, dan ini tentu saja akan membawa dampak positif bagi perkembangan dakwah Islam.

Nah, kedatangan sang tunanetra saat itu sungguh mengganggu sehingga beliau tidak menyambutnya, bahkan bermuka masam. Allah dalam ayat 3 dan 4 mengarahkan pembicaraan langsung kepada Nabi saw dengan berfirman: Apakah yang menjadikanmu mengetahui? Yakni engkau tidak dapat mengetahui isi hati seseorang. Boleh jadi dia, sang tunanetra, itu ingin membersihkan diri dan mengukuhkan imannya atau dia ingin mendapatkan pengajaran sehingga bermanfaat baginya pengajaran itu walau tidak dalam bentuk yang mantap.

Ayat-ayat berikutnya melanjutkan teguran-Nya dengan menyatakan bahwa: Adapun orang yang merasa tidak butuh kepadamu karena memiliki harta, anak, atau kedudukan maka engkau melayaninya dan menjelaskan secara sungguh-sungguh ajaran Islam. Engkau berbuat demikian, lanjut ayat 7, padahal tiada (celaan) atasmu, kalau dia tidak membersihkan diri dan memeluk Islam. Ayat 8 s/d 10 melanjutkan bahwa sedang siapa yang datang kepadamu dengan bersegera dan dalam keadaan takut—yakni sang tunanetra itu—maka engkau mengabaikannya


Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 1-10

1. Ayat-ayat tadi menunjukkan betapa jujur Nabi Muhammad saw dalam menyampaikan wahyu al-Qur'an sehingga teguran terhadap diri beliau pun tidak disembunyikannya.
2. Kendati sikap Nabi Muhammad saw dalam kasus yang dibenarkan ayat-ayat ini menurut ukuran manusia terhormat adalah sangat wajar dan baik, tetapi karena beliau adalah manusia teragung, maka itu dinilai Allah tidak wajar beliau lakukan.Karena itu, ada rumus yang menyatakan bahwa: "Apa yang dianggap baik oleh orang kebanyakan, masih dapat dinilai buruk oleh yang budiman."

3. Tidak terlarang menyebut ciri yang tidak disenangi oleh yang dicirikan bila hal tersebut diperlukan untuk menjelaskan identitasnya. Menamai seseorang 'si tunanetra' untuk tujuan memperkenalkannya —karena tidak ada kata lain yang dapat menunjuknya— digunakan oleh ayat ini.

4. Teguran tersebut mengajarkan bahwa ada hal-hal yang terlihat baik dan tepat melalui pandangan mata atau indikator-indikator yang tampak, tetapi pada hakikatnya jika diperhatikan lebih dalam dan dipikirkan secara saksama, atau jika diketahui hakikatnya yang terdalam maka ia tidak demikian.

5. Menghadapi —walau seorang— yang benar-benar ingin belajar dan menyucikan diri jauh lebih baik daripada menghadapi banyak orang yang hatinya tertutup.

Intisari Kandungan Ayat (Ayat 11-16)


Ayat-ayat yang lalu menegur Nabi Muhammad saw atau siapa pun, ayat 11 dan 12 mengingatkan bahwa sekali-kali jangan mengulangi sikap itu! Sesungguhnya ia yakni ayat-ayat al-Qur’an serta ajaran yang engkau sampaikan kepada tokoh kaum musyrik itu adalah suatu peringatan, maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia mengingatnya yakni memerhatikannya.

Lebih lanjut dinyatakan bahwa ajaran itu tercantum juga di dalam lembaran-lembaran yang dimuliakan di sisi Allah (13) yang ditinggikan kedudukannya atau di langit lagi disucikan (14) sehingga tidak disentuh oleh sedikit kekurangan atau kekeruhan pun. Ia berada di tangan para penulis yakni dalam genggaman tangan para malaikat (15). Para malaikat itu adalah penulis-penulis yang menulis al-Qur’an dari Lauh al-Mahfudz atau duta-duta yang mulia, berbudi luhur lagi berbakti dengan kebaktian yang sangat tinggi (16).

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 11-16


1. Al-Qur'an adalah pelajaran dan peringatan. Setiap pelajaran dan peringatan baru akan bermanfaat jika ada langkah dari seseorang untuk menjadikannya pelajaran. Tidak ada gunanya Anda memiliki tiket perjalanan dan mengetahui tempat dan jam keberangkatan jika Anda tidak melangkah keluar rumah menuju stasiun/ bandara.

2. Prinsip-prinsip ajaran yang terdapat dalam al- Qur'an, yakni akidah, syariah, dan akhlak terdapat juga dalam kitab-kitab yang diturunkan Allah; Taurat, Injil, Zabur, dan shuhuf Ibrahim.

3. Ada malaikat yang antara lain berfungsi sebagai duta-duta bagi manusia, dalam arti melakukan kegiatan yang bermanfaat, bermohon kepada Allah kiranya si A atau si B memperoleh pengampunan dan perlindungan Allah.

Kelompok ayat-ayat yang lalu berbicara tentang keniscayaan hari kemudian dan sikap manusia yang durhaka terhadap jalannya; mereka yang enggan memerhatikan al-Qur'an. 

Ayat 17 mengecam mereka yang angkuh itu dan siapa pun yang enggan menyambut tuntunan al-Qur'an dengan menyatakan: Binasalah manusia yang durhaka; alangkah amat sangat besar kekafirannya! Bukan saja pada banyaknya kekufuran, tetapi juga pada kualitas kekufurannya yang demikian mantap. 

Lebih lanjut kandungan ayat tersebut bagaikan berkata, Apakah gerangan yang membuatnya kafir dan ingkar? Lalu, ayat 18 bagaikan berkata: Tidakkah dia berpikir dari apakah Dia yakni Allah menciptakannya? 

Tanpa menunggu jawaban, langsung dijawab oleh ayat 19 —karena siapa pun yang berakal tidak akan menjawab selainnya— bahwa: Dari setetes mani yang kadarnya sangat sedikit dan terlihat remeh/ menjijikkan. Dia Yang Maha Kuasa itu menciptakannya lalu menetapkan kadar-nya yakni menentukan fase-fase kejadiannya hingga sempurna dan lahir sebagai manusia. Kemudian setelah sempurna kejadiannya sebagai janin, jalan untuk keluar dari perut ibunya Dia memudahkan (20) kemudian Dia mematikannya setelah berlalu usia yang ditetapkan Allah baginya, lalu Allah memerintahkan memasukkannya ke dalam kubur (21) kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya dari kubur (22).

Selanjutnya, ayat 23 memperingatkan seluruh manusia: Sekali-kali jangan! Yakni jangan angkuh dan jangan kafir! Atau 'Hati-hatilah!' Ayat 23 menjelaskan sebabnya, yakni karena dia belum menuntaskan tugasnya yang diperintahkan Allah sejak dia mukallaf/ dewasa sampai kematiannya.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 17-23

1. Manusia perlu mempelajari asal kejadian dan jati dirinya, agar menyadari kelemahannya sehingga tidak angkuh dan selalu memohon bantuan Allah dan agar mengetahui potensi-potensinya, agar mengembangkan dan memanfaatkannya. Di samping itu siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan dapat mengenal keagungan dan kebesaran Tuhannya.

2. Pengetahuan tentang kapan datangnya kiamat, sedikit pun tidak diketahui manusia—berbeda dengan pengetahuannya tentang kelahiran anak atau kematian. Itu sebabnya ketika menguraikan tentang hari kebangkitan, ayat tadi menggunakan kalimat Bila Dia menghendaki.

3.Siapa pun dan betapapun sempurnanya ibadah dan ketakwaan, namun manusia tetap saja tidak dapat melaksanakan secara sempurna dan tuntas seluruh apa yang ditugaskan Allah kepada-Nya. Itu salah satu sebab mengapa Allah membuka pintu taubat.

Intisari Kandungan Ayat (Ayat 24-32)

Setelah ayat-ayat yang lalu mengajak manusia memerhatikan dirinya, ayat 24 mengajak untuk memerhatikan bahan makanannya dengan mata kepala dan mata hati. Ayat 24 seakan-akan berkata: Kalau manusia hendak melaksanakan tugasnya dengan baik maka hendaklah manusia itu melihat ke makanannya, memerhatikan serta merenungkan bagaimana proses yang dilaluinya sehingga siap dimakan.

Ayat 25 hingga 30 menjelaskan sekelumit proses itu dan hasil yang dipersembahkannya, yakni Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air dari langit sederas-derasnya (25), kemudian Kami belah bumi yakni merekahnya melalui tumbuh-tumbuhan dengan belahan yang sempurna (26), lalu Kami tumbuhkan padanya yakni di bumi itu biji-bijian (27), dan anggur serta sayur-sayuran (28) dan juga pohon Zaitun serta pohon kurma (29), kebun-kebun yang lebat (30), serta buah-buahan dan Abba*) yakni rumput-rumputan (31) Itu semua adalah untuk kesenangan kamu wahai umat manusia dan juga untuk binatang-binatang ternak kamu (32).

* Sayyidina Abu Bakar ra. pernah ditanya tentang arti Abba (ayat 31), lalu beliau menjawab dengan 'Saya tidak tahu.' Jawaban serupa dikemukakan juga oleh Sayyidina Umar Ibnu al-Khaththab ra. Ini memberi pelajaran untuk tidak menjawab pertanyaan yang kita tidak ketahui, sekaligus larangan menafsirkan al-Qur'an secara spekulatif. Biarlah orang lain atau generasi berikut yang menjelaskannya, bila mereka mampu.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 24-32


1. Melihat dan merenung tentang bahan makanan, bagaimana proses kejadiannya, lalu memilih yang terbaik dan sesuai untuk dimakan, merupakan salah satu perintah Allah yang perlu diperhatikan.

2. Setiap orang harus dapat menarik pelajaran dari fenomena alam, semakin dalam renungan, semakin banyak rahasia dan manfaatnya yang dapat terungkap.

3. Manusia hendaknya selalu mengingat nikmat-nikmat Allah—dan alangkah banyaknya nikmat tersebut, antara lain ketersediaan yang lebih dari cukup dia4.persada bumi ini bahan pangan untuk seluruh makhluk hidup.

Ayat-ayat yang lalu menguraikan tentang aneka makanan yang disiapkan Allah bagi manusia. Di sana, terlihat betapa Allah kuasa mencipta. Pepohonan dipetik buahnya bahkan berguguran dedaunannya, khususnya pada musim gugur, kemudian berkembang lagi pada musim bunga. Apa yang berjatuhan dari pepohonan, lalu bercampur dengan tanah dapat tumbuh lagi, antara lain menunjuk kuasa-Nya membangkitkan yang mati.

Jika demikian, kiamat pasti datang. Nah, ayat 33 menegaskan: maka apabila kiamat datang dengan suara yang memekakkan yaitu tiupan sangkakala yang kedua, pertanda bangkitnya semua makhluk dari kuburnya, pada hari itu semua manusia lari dari saudaranya (34), dan dari ibu dan bapaknya (35), serta dari teman yakni istri dan anak-anaknya (36). Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang sangat menyibukkannya (37) sehingga masing- masing hanya mengurus dirinya, enggan diganggu oleh siapa pun.

Setelah masing-masing selesai mempertanggungjawabkan amal-amalnya, maka ketika itu menurut ayat 38, banyak muka-muka yang berseri-seri penuh cahaya, tertawa dan gembira ria menikmati anugerah Allah (39). Mereka itu adalah orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan menurut ayat 40, banyak juga muka-muka pada hari itu,  wajah-nya terdapat debu yakni ditempel oleh debu sehingga tampak keruh, dan ditutup oleh kegelapan yang sangat hitam (41). Mereka itu adalah orang-orang kafir yang mengingkari keesaan Allah dan keniscayaan kiamat lagi pendurhaka-pendurhaka (43), yakni pelaku-pelaku kejahatan dan amal-amal
tidak terpuji.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 33-42

1. Perhatikanlah fenomena alam niscaya Anda memperoleh contoh tentang kuasa Allah membangkitkan orang yang telah mati.

2. Pada hari kiamat, semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Semua juga takut mempertanggungjawabkan amal-amalnya tanpa dapat melempar tanggung jawab, tidak juga dapat saling tolong-menolong, kendati yang mengharapkan bantuan adalah orang yang paling dicintai. Situasi ini paling tidak terjadi pada awal tahap perhitungan Allah.

3.Di hari kemudian hanya ada dua kelompok besar, yaitu yang bermuka ceria dan bergembira ria, karena berbahagia dengan surga dan yang bermuka keruh lagi berwajah hitam karena takut, sedih memperoleh siksa yang pedih.

Demikian, Wa Allah A'lam.

0 komentar

Tafsir Surat An-Naba ( Tafsir Mishbah)


Surah an-Naba'
terdiri dari 40 ayat. Dinamakan surah an-Naba' yang berarti berita besar, diambil dari ayat 2.

(Bagian 1)

Ayat-ayat surah ini disepakati turun sebelum Nabi saw hijrah ke Madinah. Namanya adalah surah an-Naba'. Ada juga yang menambahkan kata al- 'Azhim. Ia dinamai juga surah 'Amma Yatasa'alun dan ada yang mempersingkatnya dengan menamainya surah 'Amma. Nama-nama yang lain adalah surah at-Tasa’ul juga al-Mu‘shirat. Nama-nama tersebut diangkat dari ayat pertama dan kedua surah ini.

Surah ini mengandung uraian tentang hari kiamat dan bukti-bukti kuasa Allah untuk mewujudkannya. Bukti-bukti utama yang dipaparkan di sini adalah penciptaan alam raya yang demikian hebat serta sistem yang mengaturnya yang kesemuanya menunjukkan adanya pembalasan pada hari tertentu yang ditetapkan-Nya.

Tujuan utama surah ini menurut al-Biqa‘i adalah pembuktian tentang keniscayaan hari kiamat, yang merupakan suatu hal yang tidak dapat diragukan sedikit pun. Allah Sang Pencipta, di samping Maha Bijaksana dan Maha Kuasa, Dia juga mengatur dan mengendalikan manusia sesempurna mungkin.

Dia menyediakan buat mereka tempat tinggal (bumi) yang sesuai bagi kelangsungan hidup mereka dan keturunan mereka. Apa yang Allah sediakan itu demikian sempurna sehingga manusia tidak membutuhkan lagi sesuatu yang tidak tersedia. Itu pulalah yang menciptakan hubungan harmonis antar-sesama. Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Kuasa itu tidak mungkin membiarkan hamba-hamba-Nya hidup saling menganiaya, menikmati rezeki-Nya tetapi menyembah selain-Nya, tanpa melakukan hisab (perhitungan) atas perbuatan-perbuatan mereka.

Apalagi Dia adalah Pemberi Putusan, bahkan sebaik-baik Pemberi putusan. Pengabaian mereka sama sekali tidak dapat diterima akal, bahkan terbetik dalam benak. Perhitungan atas manusia adalah sesuatu yang pasti. Nama surah ini an-Naba’ (berita yang penting) dan 'Amma yatasa'alun menunjukkan dengan sangat jelas tujuan tersebut. Ini terlihat dengan memerhatikan ayat-ayatnya serta awal dan akhir uraiannya. Demikian lebih kurang al-Biqa'i.

Surah ini, menurut beberapa pakar, merupakan surah ke-80 dari segi perurutan turunnya surah-surah al-Qur’an. Ia turun sesudah surah al-Ma'arij dan sebelum surah an-Nazi'at. Jumlah ayat-ayatnya menurut cara perhitungan ulama Madinah, Syam, dan Bashrah sebanyak 40 ayat, sedang menurut cara perhitungan ulama Mekkah dan Kufah sebanyak 41 ayat.

Surah an-Naba' dimulai dengan pertanyaan yang bertujuan menggugah perhatian pembaca dan pendengarnya. Uraian surah ini memberi kesan kehebatan dan kedahsyatan apa yang dibicarakannya. Ayat 1 dan 2 menyatakan: Tentang apakah yang mereka —yakni kaum musyrik atau masyarakat Mekkah secara umum— saling pertanyakan (1) Tentang berita penting yang agung, yang mereka itu berselisih pendapat menyangkut terjadinya (2) Ada yang percaya, ada yang ragu, dan ada juga yang menolaknya (3) Selanjutnya ayat 4 menghardik yang ragu atau menafikan dugaan dengan menegaskan bahwa semua pihak akan mengetahui dengan pasti. Makna serupa diulangi lagi oleh ayat ke-5. 

Selanjutnya, ayat 6 sampai dengan ayat 16 mengemukakan sembilan aneka ciptaan Allah yang terhampar di bumi, yang terbentang di langit, dan yang terdapat dalam diri manusia, yang kesemuanya demikian hebat dan mengagumkan sekaligus menunjukkan kuasa Allah atas segala sesuatu. Itu bermula dengan menyebut bumi yang diciptakan-Nya nyaman bagaikan ayunan (untuk menjadi hunian manusia) (6), gunung-gunung yang ditancapkan-Nya (agar bumi tak oleng) (7), dilanjutkan dengan penciptaan manusia berpasang-pasangan (agar potensi cinta yang terdapat dalam dirinya dapat tersalurkan dan generasi dapat berlanjut (8).

Lalu, tidur yang memutus aktivitas (agar manusia dapat beristirahat) (9), malam yang dijadikan-Nya gelap sehingga menutupi pandangan dan tidur dapat nyenyak (10) dan siang yang dijadikannya terang benderang guna memudahkan mencari sarana kehidupan (11). Dari sana, ayat (12) beralih untuk mengundang perhatian terhadap langit yang berlapis-lapis dengan kokoh, di mana terdapat matahari yang memancarkan cahaya yang demikian benderang (13).

Selanjutnya, diingatkan bahwa dari langit, yakni awan yang mengandung butir-butir air, Allah menurunkan hujan yang deras (14) untuk tumbuhnya aneka biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan (15) serta kebun-kebun yang lebat (16). Selanjutnya, ayat 17 menegaskan bahwa ada hari di mana Allah akan memisahkan yang baik dan yang buruk, memberi putusan terhadap masing-masing, dan hari tersebut memunyai waktu yang telah ditentukan, yakni oleh-Nya sendiri.

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 1-17

1. Tidak ada alasan untuk meragukan kuasa Allah! Perhatikanlah alam sekeliling! Siapa yang menciptakannya? Tidak mungkin alam itu menciptakan dirinya sendiri. Pelajarilah keharmonisan kerjanya. Pasti akan disadari bahwa yang mengatur keharmonisan itu pastilah Dia Yang Maha Esa lagi Maha Mengetahui.

2. Pelajarilah diri Anda, banyak hal yang belum terungkap, kendati Anda sendiri yang mengalaminya setiap hari. Tidur misalnya, hingga kini belum diketahui bagaimana proses terjadinya.

3. Selanjutnya, apa jadinya jika siang terus-menerus tanpa malam, atau sebaliknya? Allah yang menggilirnya, melakukan hal tersebut demi kepentingan manusia. Jika demikian, bukan hanya cahaya yang baik dan bermanfaat, tetapi juga kegelapan malam. Jangan menggeneralisir seperti halnya orang musyrik atau penyembah api.

4. Perhatikanlah langit betapa indah dan tegarnya. Lihat juga matahari! Tanpa sinarnya yang sesuai kita akan kedinginan atau akan terbakar kepanasan. Bandingkanlah berapa banyak tenaga dan biaya yang diperlukan untuk penerangan jika sinar matahari tidak memancar? Lalu amati air yang diturunkan-Nya dari langit! Bagaimana siklusnya? Bagaimana proses turunnya? Kehidupan di planet tempat kita bermukim, tidak akan berlanjut tanpa air.

5. Setelah sekian banyak ciptaan-Nya yang sengaja diciptakan-Nya untuk kepentingan dan kenyamanan manusia, apakah manusia menduga bahwa ia diciptakan sia-sia? Apakah manusia mengira bahwa tujuan penciptaan hanya pergantian hari dan malam, makan, minum, dan hubungan seks? Mengumpul materi dan meraih kedudukan sosial? Apakah manusia menduga bahwa Allah akan mempersamakan yang baik dan yang buruk? Tidak, karena itu Dia menentukan hari tertentu —di mana semua akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan amal-amalnya, sehingga terpisah yang baik dan yang buruk.

Setelah ayat-ayat yang lalu menguraikan siksa bagi para pendurhaka, ayat 31 hingga 36 menguraikan ganjaran orang-orang bertakwa, yakni "Bagi mereka kemenangan yang besar atau masa dan tempat kebahagiaan di surga (yaitu) kemenangan dengan memperoleh keselamatan dan keterbebasan dari bencana serta perolehan kebajikan yang dilengkapi dengan kebun-kebun dan buah-buah anggur, serta gadis-gadis remaja yang baru tumbuh payudaranya, lagi sebaya dengan sesamanya dan/ atau sebaya juga dengan pasangannya. Yang menjadi penghuni surga itu tersedia juga gelas-gelas yang isinya penuh minuman yang sangat lezat. Di surga sana, mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (juga) ucapan dusta. Yang demikian itu adalah ganjaran yang bersumber dari Tuhanmu, wahai Nabi Muhammad, yang merupakan pemberian yang banyak dan memuaskan."

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 31-36

1. Nikmat surgawi bermacam-macam. Ada yang bersifat jasmani; makanan dan seks, ada juga yang bersifat ruhani; keterbebasan dari perkataan sia-sia dan kebohongan.
2. Ucapan yang tidak memunyai makna lebih-lebih kebohongan adalah sesuatu yang buruk, yang tidak wajar muncul dari orang-orang yang mendambakan surga.
3. Nikmat surgawi bukanlah imbalan amal kebaikan sehingga dapat dituntut, tetapi ia adalah ganjaran yang diterima berkat pemberian Allah. Itu sebabnya ketika berbicara tentang siksa, dinyatakan-Nya: "Balasan yang setimpal" (ayat 26) berbeda dengan ganjaran surga yang dinyatakan-Nya sebagai "Pemberian".
4. Penyebutan kata Tuhanmu dalam konteks pemberian ganjaran (ayat 36) mengisyaratkan betapa tinggi kedudukan Nabi Muhammad saw di sisi Allah swt.

Intisari Kandungan Ayat (ayat 37-40)

Setelah ayat yang lalu menjelaskan aneka ganjaran yang disiapkan Allah, ayat 37 dan seterusnya menjelaskan siapa Allah, bagaimana sikap makhluk kelak jika terjadi kiamat serta sifat kiamat. Ayat 37 menegaskan bahwa Dia yang memberi ganjaran itu adalah Tuhan Pemelihara dan Pengendali langit dan bumi, serta apa yang terdapat antara keduanya, semua makhluk yang berada di alam raya ini tidak memiliki, yakni tidak diberi oleh Allah kemampuan/ wewenang berbicara kepada-Nya.

Ketiadaan wewenang dan kemampuan itu menurut ayat 38 akan sangat jelas terlihat pada hari kiamat, hari ketika ruh, yakni Malaikat Jibril dan para malaikat semuanya, berdiri bershaf-shaf, menghadap-Nya. Mereka tidak berkata-kata, lebih-lebih keberatan atau memohonkan ampunan atau syafaat kepada yang durhaka, kecuali siapa yang telah diberi izin khusus untuk berbicara oleh ar-Rahman, Tuhan Yang Maha Pemurah itu; dan yang diberi izin itu mengucapkan kata yang benar.

Ayat 39 menyatakan bahwa: "Itulah hari yang pasti terjadi dan jika demikian maka siapa yang menghendaki, untuk menelusuri jalan keselamatan—sebelum Jahanam menjadi tempat tinggalnya—maka hendaklah dia sekarang ini juga bersungguh-sungguh menempuh menuju Tuhannya jalan kembali dengan beriman, bertaubat, dan beramal saleh."

Akhirnya, surah ini ditutup oleh ayat 40 dengan firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu—hai semua manusia, khususnya yang kafir—tentang siksa yang dekat. Itu akan terjadi pada hari setiap orang melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, yakni amal-amal kebaikan dan keburukannya selama hidup di dunia atau melihat balasan dan ganjarannya.

Orang Mukmin ketika itu akan berkata: "Alangkah baiknya jika aku dibangkitkan sebelum ini." Dan orang kafir akan berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah sehingga tidak dibangkitkan dari kubur atau sama sekali tidak pernah wujud."

Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Ayat 37-40

1. Allah Penguasa di dunia dan di akhirat. Kekuasaan-Nya di akhirat sangat menonjol sehingga tidak satu pun yang mengingkarinya. Semua takut kepada-Nya, tidak seperti dalam hidup duniawi. Di sana, para malaikat yang dekat kepada-Nya pun tidak dapat berbicara kecuali dengan izin-Nya, maka tentu lebih lebih makhluk durhaka. Mereka pasti akan bungkam.
2. Allah adalah Pemilik, Pemelihara, dan Pengatur alam raya dari yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya. Dia bukan sekadar Pencipta, lalu menyerahkan wewenang pengaturan aneka ciptaan-Nya kepada malaikat/ dewa-dewa, baik dipersonifikasi dengan berhala-berhala, maupun tanpa personifikasi (sekadar percaya).
3. Ganjaran, bahkan balasan yang diberikan Allah adalah bagian dari rahmat-Nya, termasuk yang diterima oleh para pendurhaka. Bukankah merupakan rahmat menghukum yang bersalah? Bukankah merupakan rahmat membedakan antara yang baik dan yang buruk?
4. Di hari kemudian, setiap orang akan melihat apa yang dikerjakannya di dunia. Itu dapat berarti melihat dengan mata kepala ganjaran dan balasan amalnya, atau bahkan melihatnya kembali sebagaimana yang terjadi—melebihi cara kita sekarang melihat rekaman peristiwa-peristiwa.
5. Penghuni neraka menyesal —penyesalan yang tidak berguna— mengapa mereka harus diwujudkan di dunia untuk memikul tanggung jawab. Karena itu yang berakal hendaknya menggunakan kesempatan hidupnya di dunia, agar tidak menyesal di Hari Kemudian.
Demikian, Wa Allah A'lam.

Setelah ayat-ayat yang lalu menguraikan siksa bagi para pendurhaka, ayat 31 hingga 36 menguraikan ganjaran orang-orang bertakwa, yakni "Bagi mereka kemenangan yang besar atau masa dan tempat kebahagiaan di surga (yaitu) kemenangan dengan memperoleh keselamatan dan keterbebasan dari bencana serta perolehan kebajikan yang dilengkapi dengan kebun-kebun dan buah-buah anggur, serta gadis-gadis remaja yang baru tumbuh payudaranya, lagi sebaya dengan sesamanya dan/ atau sebaya juga dengan pasangannya. Yang menjadi penghuni surga itu tersedia juga gelas-gelas yang isinya penuh minuman yang sangat lezat. Di surga sana, mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (juga) ucapan dusta. Yang demikian itu adalah ganjaran yang bersumber dari Tuhanmu, wahai Nabi Muhammad, yang merupakan pemberian yang banyak dan memuaskan."

Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari Ayat 31-36

1. Nikmat surgawi bermacam-macam. Ada yang bersifat jasmani; makanan dan seks, ada juga yang bersifat ruhani; keterbebasan dari perkataan sia-sia dan kebohongan.
2. Ucapan yang tidak memunyai makna lebih-lebih kebohongan adalah sesuatu yang buruk, yang tidak wajar muncul dari orang-orang yang mendambakan surga.
3. Nikmat surgawi bukanlah imbalan amal kebaikan sehingga dapat dituntut, tetapi ia adalah ganjaran yang diterima berkat pemberian Allah. Itu sebabnya ketika berbicara tentang siksa, dinyatakan-Nya: "Balasan yang setimpal" (ayat 26) berbeda dengan ganjaran surga yang dinyatakan-Nya sebagai "Pemberian".
4. Penyebutan kata Tuhanmu dalam konteks pemberian ganjaran (ayat 36) mengisyaratkan betapa tinggi kedudukan Nabi Muhammad saw di sisi Allah swt.

Intisari Kandungan Ayat (ayat 37-40)

Setelah ayat yang lalu menjelaskan aneka ganjaran yang disiapkan Allah, ayat 37 dan seterusnya menjelaskan siapa Allah, bagaimana sikap makhluk kelak jika terjadi kiamat serta sifat kiamat. Ayat 37 menegaskan bahwa Dia yang memberi ganjaran itu adalah Tuhan Pemelihara dan Pengendali langit dan bumi, serta apa yang terdapat antara keduanya, semua makhluk yang berada di alam raya ini tidak memiliki, yakni tidak diberi oleh Allah kemampuan/ wewenang berbicara kepada-Nya.

Ketiadaan wewenang dan kemampuan itu menurut ayat 38 akan sangat jelas terlihat pada hari kiamat, hari ketika ruh, yakni Malaikat Jibril dan para malaikat semuanya, berdiri bershaf-shaf, menghadap-Nya. Mereka tidak berkata-kata, lebih-lebih keberatan atau memohonkan ampunan atau syafaat kepada yang durhaka, kecuali siapa yang telah diberi izin khusus untuk berbicara oleh ar-Rahman, Tuhan Yang Maha Pemurah itu; dan yang diberi izin itu mengucapkan kata yang benar.

Ayat 39 menyatakan bahwa: "Itulah hari yang pasti terjadi dan jika demikian maka siapa yang menghendaki, untuk menelusuri jalan keselamatan—sebelum Jahanam menjadi tempat tinggalnya—maka hendaklah dia sekarang ini juga bersungguh-sungguh menempuh menuju Tuhannya jalan kembali dengan beriman, bertaubat, dan beramal saleh."

Akhirnya, surah ini ditutup oleh ayat 40 dengan firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu—hai semua manusia, khususnya yang kafir—tentang siksa yang dekat. Itu akan terjadi pada hari setiap orang melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, yakni amal-amal kebaikan dan keburukannya selama hidup di dunia atau melihat balasan dan ganjarannya.

Orang Mukmin ketika itu akan berkata: "Alangkah baiknya jika aku dibangkitkan sebelum ini." Dan orang kafir akan berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah sehingga tidak dibangkitkan dari kubur atau sama sekali tidak pernah wujud."

Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Ayat 37-40

1. Allah Penguasa di dunia dan di akhirat. Kekuasaan-Nya di akhirat sangat menonjol sehingga tidak satu pun yang mengingkarinya. Semua takut kepada-Nya, tidak seperti dalam hidup duniawi. Di sana, para malaikat yang dekat kepada-Nya pun tidak dapat berbicara kecuali dengan izin-Nya, maka tentu lebih lebih makhluk durhaka. Mereka pasti akan bungkam.
2. Allah adalah Pemilik, Pemelihara, dan Pengatur alam raya dari yang sekecil-kecilnya hingga yang sebesar-besarnya. Dia bukan sekadar Pencipta, lalu menyerahkan wewenang pengaturan aneka ciptaan-Nya kepada malaikat/ dewa-dewa, baik dipersonifikasi dengan berhala-berhala, maupun tanpa personifikasi (sekadar percaya).
3. Ganjaran, bahkan balasan yang diberikan Allah adalah bagian dari rahmat-Nya, termasuk yang diterima oleh para pendurhaka. Bukankah merupakan rahmat menghukum yang bersalah? Bukankah merupakan rahmat membedakan antara yang baik dan yang buruk?
4. Di hari kemudian, setiap orang akan melihat apa yang dikerjakannya di dunia. Itu dapat berarti melihat dengan mata kepala ganjaran dan balasan amalnya, atau bahkan melihatnya kembali sebagaimana yang terjadi—melebihi cara kita sekarang melihat rekaman peristiwa-peristiwa.
5. Penghuni neraka menyesal —penyesalan yang tidak berguna— mengapa mereka harus diwujudkan di dunia untuk memikul tanggung jawab. Karena itu yang berakal hendaknya menggunakan kesempatan hidupnya di dunia, agar tidak menyesal di Hari Kemudian.
Demikian,

Wa Allah A'lam.
2 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Waroeng Mukhtasor - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger