Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Cinta Seorang Ibu Dapat Mempengaruhi OTAK Anak


Beratnya hanya 1,4 kilogram, tapi mengandung lebih dari 100 juta sel syaraf. Ia mengatur gerak seluruh badan dan pemikiran kita, bahkan mampu mengontrol orang lain: otak. Studi terakhir menyebut, otak sejatinya adalah "hati" kita, di mana segala perasaan berkecamuk, termasuk cinta.

Ini salah satu buktinya. Sebuah penelitian para ilmuwan dari University of California, Los Angeles (UCLA) membandingkan dua otak anak berusia 3 tahun dengan nasib berbeda. Untuk menunjukkan, pengasuhan dengan kasih sayang bukan hanya merawat secara emosional, tapi juga menentukan ukuran otak seorang anak.

Dari hasil pemindaian otak ditemukan, otak anak yang diasuh dengan kasih sayang dan cukup cinta berukuran jauh lebih besar, memiliki bintik dan area hitam lebih sedikit dari yang lain, yang diabaikan.

Menurut para ahli syaraf, perbedaan ukuran otak anak berasal dari satu penyebab utama: tergantung cara setiap anak dirawat oleh ibu mereka.

Seperti dilaporkan Sunday Telegraph, anak dengan ukuran otak lebih besar dan perkembangan lebih maksimal dirawat oleh seorang ibu yang responsif terhadap bayinya.

Sementara, anak dengan ukuran otak yang menyusut, bisa jadi adalah korban dari tindakan abai bahkan penganiayaan.
Perbandingan otak

Menurut penelitian tersebut, otak anak yang diabaikan tak memiliki areapaling fundamental yang dimiliki otak anak yang dirawat dengan penuh kasih sayang.

Lalu, apa pengaruhnya?

Para ilmuwan menyebut, anak dengan ukuran otak lebih besar berpeluang menjadi lebih cerdas dan berpotensi besar untuk mengembangkan kemampuan sosialnya, untuk berempati dengan orang lain.

Sebaliknya, anak dengan ukuran kecil, bahkan secara ekstrem, diduga lebih berpeluang kecanduan obat-obatan, terlibat dalam kriminal, dan jauh lebih mungkin untuk menjadi pengangguran dan menjadi tergantung pada bantuan negara.

Tak hanya itu, anak tersebut lebih berpeluang mengalami masalah mental dan problem kesehatan serius lainnya.

Profesor  Allan Schore dari UCLA mengatakan, jika bayi tidak dirawat dengan sebaik-baiknya dalam dua tahun pertama kehidupannya, itu dapat memiliki dampak yang mendasar dalam perkembangannya.

Salah satunya, ia menunjuk, sejumlah gen terkait aspek fungsi otak termasuk kecerdasan, tidak bisa berfungsi. Sayangnya, ada kemungkinan gen-gen tersebut tidak bisa berkembang atau bahkan tak ada.

Hasil studi ini tampaknya juga menunjukkan, makin parah seorang ibu mengabaikan anaknya, makin jelas kerusakan yang diakibatkan.

Juga menguak konsekuensi mengkhawatirkan jika seorang anak yang masih dalam pertumbuhan kerap diabaikan orang tuanya sehingga otak mereka tak berkembang maksimal.

Namun, penelitian di Amerika Serikat itu menunjukkan "siklus memprihatinkan" itu bisa dipatahkan, oleh intervensi dini dan dukungan keluarga besar.

Studi ini berkorelasi dengan penelitian yang dirilis awal tahun ini, yang menyebut bahwa anak-anak yang mendapat cinta dan kasih sayang dari ibu mereka di awal kehidupan mereka, akan lebih pintar dan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk belajar.

Penelitian oleh psikiater anak dan ahli saraf di Washington University School of Medicine di St Louis, menemukan anak usia sekolah yang dirawat dengan kasih sayang ibunya di awal-awal perkembangannya, punya otak dengan hippocampus yang lebih besar. Untuk diketahui, hippocampus adalah struktur kunci penting dalam otak terkait kemampuan belajar, memori, dan respon terhadap stres.
ibu dan bayi mengobrol

Sumber: Daily Mail
0 komentar

Misteri Mati Suri

Misteri Mati Suri Dalam Kacamata Fisika Kuantum

Apa yang terjadi ketika seseorang mengalami kondisi hampir mati?


VIVAnews - Perasaan tenang luar biasa, melihat cahaya terang menyilaukan entah dari mana, jiwa yang terlepas sesaat dari raga, memasuki sebuah dimensi lain, atau berjalan di kegelapan terowongan menuju cahaya di ujungnya. Atau mungkin berkomunikasi dengan roh, yang memintanya kembali ke raganya, untuk hidup kembali. 
Pengalaman mati suri (near death experience) memiliki pola yang berbeda untuk setiap orang yang mengalaminya. Juga ragam penjelasan, dari psikologis hingga menurut keyakinan masing-masing. 
Teori baru ditawarkan oleh dua ilmuwan fisika kuantum ternama. Menurut mereka, pengalaman hampir mati terjadi ketika zat yang membentuk jiwa manusia terlepas dan meninggalkan sistem syaraf, memasuki alam semesta.

Berdasar pada ide ini, kesadaran (consciousness) sejatinya dianggap sebagai sebuah program komputer kuantum dalam otak, yang bisa tetap bertahan di alam semesta bahkan setelah kematian. Ini menjelaskan persepsi sejumlah orang yang pernah mengalami mati suri.

Adalah Dr Stuart Hameroff, Profesor Emeritus pada Departemen Anestesi dan Psikologi dan Direktur Pusat Studi Kesadaran University of Arizona, yang mengembangkan teori kuasi-relijius ini.

Hameroff  seperti dikutip Daily Mail, mendasarkan teorinya pada teori kuantum kesadaran yang ia kembangkan bersama fisikawan Inggris, Sir Roger Penrose yang menyatakan, esensi dari jiwa kita terkandung dalam strukstur yang disebut mikrotubulus (jamak: mikrotubula) yang berada dalam sel-sel otak.

Mereka berpendapat, pengalaman kesadaran kita adalah hasil dari efek gravitasi kuantum dalam mikrotubula. Sebuah teori yang mereka sebut sebagai pengaturan pengurangan obyektif (Orch-OR).

Dengan demikian, menurut teori ini, jiwa kita lebih dari sekadar interaksi antar neuron pada otak. Melainkan susunan yang terbangun dari intisari alam semesta, dan mungkin telah ada sejak waktu bermula.

Konsep ini agak mirip dengan keyakinan Buddha dan Hindu, bahwa kesadaran adalah bagian integral dari alam semesta. Dan memang mirip dengan filsafat Barat idealis.

Dengan keyakinan itu, Dr Hameroff menyatakan bahwa saat pengalaman hampir mati terjadi, mikrotubula kehilangan kondisi kuantumnya, namun informasi di dalamnya tak lantas hancur. Sebaliknya, ia hanya meninggalkan raga dan kembali ke alam semesta.

"Katakanlah jantung berhenti berdetak, darah berhenti mengalir, mikrotubulus kehilangan keadaan kuantumnya," kata Dr Hameroff. "Tapi informasi kuantum di dalam mikrotubulus tidak rusak, tak bisa dihancurkan. Hanya didistribusikan dan menghilang ke alam semesta."

Jika pasien tersebut sadar, hidup kembali, informasi kuantum itu juga akan kembali ke mikrotubulus. "Sehingga  pasien bisa berkata, 'aku mengalami pengalaman hampir mati'."

Bagaimana jika pasien itu tak pernah tersadar?

"Jika pasien tak sadar dan akhirnya meninggal dunia. Bisa jadi informasi kuantumnya tetap eksis di luar jasadnya, mungkin tanpa batas, sebagai sebuah ruh."

Namun, teori Orch-OR tesebut mendapat kritik keras dari para pemikir empiris, dan terus menjadi perdebatan kontroversial di kalangan ilmuwan.

Fisikawan MIT, Max Tegmark adalah salah satu penentangnya. Ia menerbitkan makalah setebal 2.000 halaman yang mengritik teori tersebut, dan kerap dikutip oleh banyak penentang.

Meski demikian, Dr Hameroff yakin, penelitian fisika kuantum akan menvalidasi Orch-Or. Apalagi efek kuantum kini digunakan untuk menjelaskan banyak proses biologis, seperti bau, navigasi burung, dan fotosintesis. (umi)
0 komentar

Olahraga 2 Menit yangManfaatnya Setara Lari 1,5Jam

Olahraga adalah salah satu syarat
agar badan selalu fit dan bugar. Sayangnya
tidak semua orang punya waktu untuk
berolahraga. Bagi orang-orang sibuk
seperti ini, tidak usah khawatir. Peneliti
menemukan bahwa melakukan olahraga
intensif 2,5 menit saja sudah setara
dengan berlari 1,5 jam.
Caranya adalah berlari sekeras mungkin
selama 30 detik kemudian beristirahat
selama 4 menit dan mengulanginya lagi
sebanyak 4 kali. Seorang peneliti bernama
Stuart Gray dari Universitas Aberdeen
menemukan bahwa olahraga semacam itu
lebih cepat menurunkan kadar lemak
darah dibandingkan berjalan cepat selama
30 menit .
Gray kemudian mengukur kadar lemak
peserta di laboratorium sehari setelah
melakukan olahraga yang ditugaskan. Para
peserta sebelumnya diminta memakan
makanan berlemak yang terdiri dari roti,
mayones dan keju saat sarapan dan makan
siang. Peneliti kemudian melihat seberapa
cepat kadar lemak dalam darah mengalami
penurunan.
Terlalu banyak lemak dalam darah setelah
makan dapat menyumbat pembuluh darah
arteri dan menyebabkan penyakit jantung.
Temuan menunjukkan bahwa olahraga
dengan intensitas sedang seperti berjalan
cepat selama 30 menit hanya mengurangi
kandungan lemak darah sebesar 11
persen.
Namun peserta yang melakukan olahraga
singkat dengan intensitas tinggi selama 2,5
menit seperti yang disebutkan di atas
mengalami penurunan kadar lemak darah
sebanyak 33 persen. Penurunan lemak
darah ini setara dengan yang dihasilkan
dari berlari selama 90 menit.
Dalam laporan yang dimuat jurnal Clinical
Science, para peneliti menunjukkan bahwa
olahraga singkat namun intensif akan
membuat liver mengambil lemak lebih
banyak dari dalam darah sebelum
menyortir lalu membakarnya.
Meskipun olahraga dengan intensitas
tinggi tidak selalu meningkatkan kekuatan,
namun olahraga ini dapat meningkatkan
daya tahan tubuh. Para peneliti
menekankan bahwa durasi olahraga yang
singkat cukup penting karena banyak
orang sering mengeluh tidak punya cukup
waktu untuk berolahraga.
Para peneliti juga menegaskan bahwa
olahraga super intensif selama 2,5 menit
seringkali akhirnya memakan waktu sekitar
20 menit karena ada jeda 4 menit di sela-
selanya. Olahraga dengan intensitas tinggi
sebaiknya dilakukan secara teratur agar
dapat bermanfaat untuk kesehatan.
"Meskipun dengan intensitas sedang,
olahraga dapat membantu melindungi
tubuh dari penyakit jantung dan
pembuluh darah. Temuan kami
menunjukkan bahwa latihan dengan
intensitas tinggi dan singkat dapat menjadi
metode yang efektif untuk meningkatkan
kesehatan dan memperpendek waktu
berolahraga," kata Gray seperti dilansir
Medical Daily, Selasa (16/10/2012).
1 komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Waroeng Mukhtasor - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger